Mengenang Dayat Tanpa Ketua

Dua dekade lalu nama Vivienne Westwood sama sekali tidak masuk dalam daftar para pahlawan kami. Aneh memang. Meskipun kami semua penyembah Sex Pistols sekaligus peniru Vicious, dan setiap kawan minimal memiliki satu set busana andalannya yang dibikin mirip dengan keluaran butik SEX yang dijalankan Vivienne bersama Malcolm si manajer Pistols. Kami membuat busana sendiri berbekal semangat eksperimentasi menolak beli dan tak punya uang. Seperti banyak punks di belahan bumi manapun, kami jeli menjahit, menyobek, menambal dan tentu saja membacylin kaos dan jeans, menjadi apa yang kalau diingat-ingat hari ini hasilnya memang agak memalukan.

Kala itu semuanya berjalan seadanya, senorak atau sekeren apapun hasil kerajinan tangan kami, semuanya dilakukan dalam rangka menantang dunia -yang dalam lanskap domisili kami jadinya menantang kotamadya. Kami memamerkan kostum masing-masing dengan kebanggan selayak tengah melenggang melintasi 430 King’s Road. Atas nama Do It Yourself semua batasan dikonfrontasikan.

Continue reading “Mengenang Dayat Tanpa Ketua”

Di Persimpangan Waktu

Tahun segera habis. Beberapa kita akan menyiapkan ritual penghabisannya. Invitasi berdatangan, jaringan kartel fermentasi turun gunung, jalanan disesaki manusia laron pemburu kembang api yang beriringan dengan segelintir orang mencemaskan nasib burung migran yang ketakutan di bawah gempuran petasan di Gondomanan, para kekasih berdekapan menghitung mundur dan sebagian penyendiri akan membuka catatan butir janji yang telah diikhtiarkan di awal tahun.

Tradisi terakhir lebih rutin saya tunaikan. Membaca dan mengingat-ingatnya di malam setelah terompet berkumandang, setelah keriuhan berganti keheningan, ketika mesiu bersisa residu, merayap senyap ke hari perdana yang akan kembali menjadi hari yang super biasa-biasa saja.

Catatan itu tak mesti berwujud memang, karena bila dituliskan pada lembaran fisik, rasanya malah terintimidasi, enggan mengunjunginya lagi. Seringnya catatan itu terselip di ingatan atau bertumpuk di note ponsel, berhimpitan di antara daftar belanja dapur, sajak-sajak galau, daftar harga kertas, spot bombing, poin-poin konsolidasi, rencana kerja kolektif dan agenda muluk lainnya.

Continue reading “Di Persimpangan Waktu”

SURAT

Ini merupakan jawaban dari beragam tuduhan M tentang sayalah pelaku tunggal atas kekerasan dalam relasi kami terdahulu. Proses dan siapa telah melakukan apa bisa ditemukan di surat panjang ini.
Terkait tuduhan M atas kekerasan seksual, saya jawab singkat; itu tidak pernah terjadi. Untuk detailnya silahkan dibaca di surat ini.
Surat ini juga memuat update tentang rencana tim penanganan independen yang dari sejak awal dinanti-nanti kabarnya.

Silahkan dapatkan suratnya disini atau bisa dibaca di bawah.
Terima kasih.

Continue reading “SURAT”

Nongkrong Adalah Melawan

Arak adalah satu alat untuk meliarkan imajinasi, untuk selalu melakukan sesuatu, yaitu melawan”.
-Widodo.

Bila kita mengenal seseorang dan pengalaman itu terlanjur menorehkan impresi tertentu, ada ketertarikan untuk mengetahui latar belakang dan masa lalunya. Bisa jadi keinginan ini tidak berlaku pada semua orang, tapi bagi saya, saya ingin menelusurinya. Itu sebabnya saya lebih nyaman menghabiskan waktu dengan intensi nongkrong, bukan dengan pendekatan rapat, konsolidasi atau pertemuan serius membedah lembar demi lembar laporan dan kajian yang isinya seringnya liukan memusingkan antara data dan kepentingan.

Continue reading “Nongkrong Adalah Melawan”