Jogja Istimewa PENGGUSURANYA

JOGJA ISTIMEWA PENGGUSURANNYA.Poster yang tak baru-baru amat, meski baru-baru ini saja keadaan makin memburuk di Temon, Kulon Progo yang diratakan oleh mega proyek NYIA yang melibatkan investor luar negeri.
Ini adalah versi termutakhir dari versi sebelumnya yang muncul di 2014, yang membedakannya hanya di bagian teks nya. Sebelumnya berbunyi “JOGJA ISTIMEWA HOTELNYA“, muatannya masih sama, terlebih busuknya.
Dahulu ketika poster “HOTELNYA” diciptakan, istilah “penggusuran” dirasa belum begitu elok ditampilkan, karena memang membawa istilah itu ke ruang publik kota ini bisa jadi akan dianggap melebih-lebihkan. Istilah Penggusuran masih asing di percakapan-percakapan harian, terlebih memang bedak menor keistimewaan selalu diumbar dalam ritme yang memuakkan. Keistimewaan kota ini sangat absolut dan ajaib, sehingga apapun bentuk-bentuk perampasan ruang hidup dan ekonomi dianggap tidak termasuk dalam kaidah bahasa alien “penggusuran”.
Hotel memang akhirnya menunjukkan ketamakannya, menyedot air di kampung-kampung dan membuat warga kelimpungan mendapati sumurnya kering karena selama puluhan tahun itu tidak pernah terjadi. Yang hilang bukan saja air, kampung itu sendiri pun perlahan lenyap, baik fisik maupun rohnya, yang padahal selalu diangan-angankan ke guyuban warganya.

Penggusuran akhirnya mendatangi Yogyakarta, mengancam, mengusir, memukul, menagkapi warganya sendiri. Bandara skala gila-gilaan ini bukan hanya akan membangun landasan ban pesawat dan jamban kelas dunia. Tapi puluhan hotel sudah siap dibangun di kawasan terluar NYIA. Dan hotel hanyalah sebahagian kecil pemain-pemain asing yang akan mengacak-acak Kulon Progo. Dan demi memuluskan Continue reading

Advertisements

Kompas TV: Sekitar Kita (online)

Tayangan program Sekitar Kita: Pesan Dinding Untuk Kota Istimewa, di Kompas TV, Sabtu 26 Desember lalu, kini bisa disaksikan di youtube, dengan channel playlist “Sekitar Kita”, dengan Continue reading

JOGJA ISTIMEWA HOTELNYA-Poster Download

jogja istimewaPoster ini diciptakan untuk pertama kalinya pada tahun 2014 lalu di bulan Oktober, pada kegiatan pembuatan mural “Jogja Asat” di Jembatan Kewek Yogyakarta. Sebagai mural kritik atas keringnya beberapa sumur warga di beberapa kampung di Yogyakarta yang diduga kuat disebabkan oleh maraknya pembangunan gedung-gedung raksasa semacam hotel, apartemen dan mall.
Yogyakarta kini memang sudah berubah. Jika dulu kota ini dipersepsikan sebagai sebuah kota yang damai, ramah, tertib, bersih, hijau, sekarang berubah drastis menjadi kota yang seolah-olah ingin terlihat modern. Modern dalam hal fisik pembangunannya. Bangunan-bangunan menjulang dibangun sebanyak-banyaknya di tempat yang tidak pas sama sekali, seperti di pemukiman kampung, mengakibatkan warga harus saling berebutan sumber daya air, bersaing dengan pihak hotel, apartemen dan mall. Kemacetan juga menjadi keluhan setiap orang, karena hotel memakan trotoar hingga badan jalan sebagai tempat parkirnya. Warga juga menjadi asing di kampung mereka sendiri, diakibatkan efek psikologi keberadaan bangunan besar di samping rumahnya.
Kampung adalah komponen penting bagi kota Yogyakarta, karena suasana “kampunglah” yang selalu diingat oleh mereka yang tinggal di luar Yogyakarta dan menyimpan impian untuk datang dan Continue reading