Mengenang Dayat Tanpa Ketua

Dua dekade lalu nama Vivienne Westwood sama sekali tidak masuk dalam daftar para pahlawan kami. Aneh memang. Meskipun kami semua penyembah Sex Pistols sekaligus peniru Vicious, dan setiap kawan minimal memiliki satu set busana andalannya yang dibikin mirip dengan keluaran butik SEX yang dijalankan Vivienne bersama Malcolm si manajer Pistols. Kami membuat busana sendiri berbekal semangat eksperimentasi menolak beli dan tak punya uang. Seperti banyak punks di belahan bumi manapun, kami jeli menjahit, menyobek, menambal dan tentu saja membacylin kaos dan jeans, menjadi apa yang kalau diingat-ingat hari ini hasilnya memang agak memalukan.

Kala itu semuanya berjalan seadanya, senorak atau sekeren apapun hasil kerajinan tangan kami, semuanya dilakukan dalam rangka menantang dunia -yang dalam lanskap domisili kami jadinya menantang kotamadya. Kami memamerkan kostum masing-masing dengan kebanggan selayak tengah melenggang melintasi 430 King’s Road. Atas nama Do It Yourself semua batasan dikonfrontasikan.

Saya baru mendengar nama Vivienne ketika hampir lulus SMA, waktu akhir pergumulan saya bersama komunitas punk di Pematang Siantar. Menemukan namanya di zine yang sudah kelewat kedaluwarsa masa beredarnya tiba di tangan kami.

Namanya lantas terlupakan begitu saja, terlebih ketika saya cabut dari sana untuk melanjutkan kuliah ke Yogyakarta di tahun 2005. Fokus yang beralih dan tak lagi memiliki intensi penuh terhadap punk secara komunitas membuat informasi akan nasib kultur ini menjadi perhatian saya yang kesekian. Tergantikan dengan urusan kuliah, mengamati graffiti, menyimak diskusi kesenian dan mengeluti sepeda.

Berita wafatnya almarhumah kemarin justru membawa keharuan yang lain, karena hampir bersamaan, saya mendapatkan kabar yang kelewatan telatnya. Kabar bahwa seorang kawan lama ternyata telah berpulang lebih dahulu dua tahun lalu, disampaikan kawan baik saya, Indra Rembo, si pelupa legendaris, sosok yang menjadi salah satu saksi hidup denyut nadi naik turunnya kondisi skena disana.

Sekitar periode 1999-2000, ketika itu saya sedang duduk di dalam angkot, perjalanan pulang dari Puskesmas setelah cabut gigi ditemani ibu saya. Biasanya setelah urusan Puskesmas beres, ibu selalu membawa kami anak-anaknya ke pasar Horas untuk jajan cendol panas, bukan es cendol yang dingin, karena bila kami meminum es bisa membuat ingusan kami kumat dan amandel menjadi momok berbahaya. Jajan diperbolehkan beliau mungkin sebagai hadiah sogokan agar kami tak terlalu lebay merasa kesakitan. Dari jendela angkot, saya melihat seorang pria berjalan di halaman GOR. Gedung serba guna itu dulu memang menjadi salah satu lokasi reguler perhelatan segala macam pertunjukan musik, termasuk musik ‘bawah tanah’. Pria tak dikenal itu berjalan santai di lapangan rumput dengan rambut berdiri, berkaos kekecilan dan jeans yang bolong di beberapa bagiannya. Saya terbelalak melihatnya, penampakan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Saya megguncang lengan ibu agar ia melihat apa yang sedang saya lihat. Ibu saya ikut melihat dan lantas berbisik “jangan ditiru itu, orang gak beres, itu kerjaannya makan narkoba!”. Sebagai anak yang lagi lugu-lugunya dan sedang berusaha menahan nyut-nyutan di gigi tentu tak berminat mempertanyakannya lebih jauh. Tapi berhari-hari lamanya saya masih memikirkannya, bertanya-tanya kenapa ada manusia yang seperti itu, siapa dia, kenapa begitu, kenapa disitu.

Waktu berlalu, saya mulai terpapar pergaulan yang lebih aneh-aneh. Bobby, kawan saya dari SMP mulai mengajak saya untuk bertandang ke tongkrongan punk yang ketika itu masih berada di kantor Pos besar di pusat kota, sebelum akhirnya tongkrongan mengungsi ke kawasan parkiran Suzuya dan melebar ke emperan jalan Diponegoro lalu kemudian tercerai berai hingga sulit dipetakan lagi. Di situlah saya kemudian bertemu dengan manusia berambut berdiri yang dahulu pernah saya lihat dari jendela angkot.

Kami mengenalnya sebagai Dayat, yang kami identifikasikan sebagai generasi punk ketiga di Siantar, sedangkan saya termasuk generasi ke empat. Oleh sebab itu sebaya kami memanggilnya bang Dayat.

Senang sekali rasanya bisa bertemu dan berteman baik dengan orang yang dahulu menorehkan impresi kuat pada ingatan lugu saya. Kami semakin dekat dan sering nongkrong berlama-lama. Bagi saya ketika itu, Dayat adalah orang yang menonjol diantara abang-abang setingkatannya. Karena dari beberapa abang-abangan punk – setidaknya bagi saya pribadi – dia tidak pernah menunjukkan posisi keseniorannya secara berlebihan. Dia memang beberapa kali saya lihat meminta kawan sebaya saya untuk membelikan sebatang dua batang rokok Surya yang sering disebutnya sendiri sebagai rokok bondon, tapi itu tidak pernah dilakukannya kepada saya. Dia sering memperkenalkan saya ke kawan-kawannya dan selalu mau meladeni cerita saya atau mendukung rencana-rencana untuk turut membangun komunitas kami.

Hal ini terbilang langka saat itu. Sekadar pengantar dan cerita konyol cum ajaib, di tahun 1999 hingga 2003-an, kondisi skena di sana serba sulit, tertutupnya informasi alternatif, atmosfir senior-junior masih sangat kental bahkan elitis, panasnya sentimen geng berbasis teritorial, adanya paradigma bahwa menjadi punk berarti pencari rival baku hantam, terlebih adanya mitos komunal yang sangat absurd ketika itu: kalau punk Siantar memiliki ketua. Iya ketua! yang mana kami semua kenal dengan sang ketua si kakak beradik, yang bermarkas di seputaran Kampung Karo. Padahal coretan vandal A dan E besar ada di seantero kota. Entah dari mana asal muasal kepercayaan ini, dan konyolnya hampir semua punks memercayainya. Masih untung ketika itu tidak diberlakukan sistem keanggotaan berkartu nama, seperti kelompok atau geng lain yang juga menjamur di banyak tongkrongan yang rata-rata memiliki kartu anggota gengnya masing-masing – seturut diwajibkannya biaya pendaftaran anggota geng. Padahal Nohead salah satu band pionir lokal dari generasi pertama sudah memanifestokannya menjadi nama bandnya. Saya pernah mengeluhkan ini kepada salah satu personilnya, bang Tomo, tapi dia hanya cengengesan mendengar saya. Hingga sekarang pun saya belum bisa melacak bagaimana keanehan ini dahulu bisa bermula.

Dayat beredar di antara generasi ke dua hingga kami penghuni generasi ke empat yang berusaha membangun ulang komunitas dari kekonyolan mitos ketua-ketuaan tadi, dia turut meradikalisasi tongkrongan sepolitis mungkin dan tekun mendorong kami mencari informasi dan pengetahuan di luar sana melampaui urusan harian pertuakan dan pergelekan, lantas tentu saja membisiki kami untuk membuang mitos ketua punk secara bertahap. Saya menengarai lenyapnya mitos ketua punk pasca generasi ke empat adalah karena ulahnya. Jadi jauh sebelum kalian terheran-heran akan skenario aparat soal penangkapan ketua anarko beberapa waktu lalu, kami sudah pernah melaluinya 25 tahun lalu dengan kadar yang lebih memalukan.

Itu adalah masa-masa kegelapan sekaligus mencerahkan bagi saya, dan kehadiran Dayat berarti penting bagi kami, karena dia secara tak langsung menjadi jembatan penghubung di antara jenjang generasi yang kami rasa lumayan menghambat perkembangan komunitas. Dia bisa dikatakan menjadi delegasi bagi beberapa kubu, yang dengan entengnya bisa beredar sekaligus menghilang ke sana kemari di banyak tongkrongan. Saya mengingatnya sebagai seseorang yang memiliki dunia tongkrongannya sendiri, yang mana kami tidak pernah benar-benar mengetahui dimana persisnya lokasi-lokasi tongkrongannya.

Saya selalu senang duduk berdiskusi dengannya di sore hari berangin di wartel Ocik sebelah kantor Pos, wartel yang menjadi markas kami para ABG pemalu yang malu-maluin menelepon gebetannya masing-masing (saya khususnya) hanya untuk mendengar suaranya yang tak berani kami jawab, dia sebagai senior tentu dengan jumawanya menasehati kami untuk lebih nekat mengejar perempuan-perempuan di ujung sambungan telepon. Dayat adalah segelintir orang yang tidak pelit berbagi informasi, menceritakan pengetahuannya yang terbatas tentang Maximum Rocknroll, komitmennya mengorganisir gigs tanpa sponsor, anthem Fucking USA-nya The Exploited, ALF, Black Panther Party, chaos Seattle, ketertarikan menyimpangnya pada Dimmu Borgir dan fenomena Straight Edge yang ketika itu belum banyak kawan berminat membicarakannya, yang oleh karena dia, saya jadi punya senjata politis ampuh untuk akhirnya sanggup menolak rokok dan menenggak tuak yang ditawarkan kawan-kawan lain.

Hingga sekarang bila saya berkesempatan pulang kampung, Selalu ada kelebatan memori kawan-kawan lama termasuk dirinya bila saya melewati jalan Sutomo dari parkiran Suzuya menuju kantor Pos, yang anehnya selalu terasa menyejukkan sekaligus menghangatkan. Dahulu, saya, Dayat, Indra, Agus, Ucok, Pical dan kawan-kawan lain sering berjalan kaki di sana, untuk sekadar mampir ke gerobak es kelapa bang Zul yang mangkal di lampu merah Diponegoro. Menikmati kelapa muda yang oleh bang Zul harganya dipasang lebih murah dari pada kepada pembeli umumnya, menyeruput sambil mengawasi bang Dermawan yang ketika itu masih bekerja di Dunkin’ Donuts. Melewati hari dengan energi kebingungan dan kemarahan akan apapun yang tak terlalu bisa kami jelaskan hulunya. Bila katanya memori memiliki aroma, saya meyakininya. Memori itu terhirup jelas di sepanjang jalan itu. Aroma bercampur antara aspal, rimbunan pohon di depan perumahan polres, jeruk nipis es kelapa dan aroma Dunkin’ hangat di sore keemasan berangin yang mengeringkan rambut kami yang belepotan lem Fox dan Pilox patungan.

Mengenang kehadirannya dahulu mengingatkan saya akan kondisi skena yang kini sudah sangat berbeda. Saya memang tak lagi mengikuti betul perkembangan apapun akan komunitas di sana, karena rasanya saya tak lagi bisa menemukan relevansi apapun. Tapi yang saya ingat ketika itu adalah kami memiliki waktu-waktu intensif untuk duduk berbagi informasi, berdiskusi. Sehingga ketika pulang kerumah, ada bekal pengetahuan baru yang kita dapat untuk dimaknai lebih lanjut sepanjang minggu, untuk kemudian ditarungkan kembali di pertemuan akhir pekan berikutnya. Berbeda dengan kondisi 18 tahun belakangan ketika makin banyak kawan disibukkan dengan urusan ngamen, yang saya yakini sedikit banyak mengubah watak dan atmosfir tongkrongan. Keadaan memang berubah, manusianya sudah pasti turut mengikutinya.

Kontak terakhir dengannya terjadi sudah lama sekali, mungkin sekitar tahun 2013 lalu, ketika ia meminta saya untuk mencarikan kaos Walls of Jericho dan Misery Index, yang untungnya bisa segera saya kirimkan ke alamat barunya di Medan. Di perbincangan terakhir itu ia juga mengakui sudah lama meninggalkan mohawk hijau 20 cm-nya, melepas kaos Total Chaos dan kalung gemboknya, menanggalkan skinny jeans dan Convers merah pudarnya. Meninggalkan Diponegoro, melanjutkan hidup katanya. Saya memahaminya. Semuanya tak mungkin sama untuk selamanya.

Ketika mendengar berita kepulangannya yang saya dapatkan terlambat itu, rasanya waktu berhenti sejenak. Saya hanya terpaku melihat layar ponsel, bingung harus berkata apa. Rasanya tak ada kata yang tepat yang bisa saya hadirkan merespon berita ini. “Maaf” menjadi kata pertama yang muncul di benak saya. Maaf atas terlambatnya saya. Perbincangan dengan Indra tak lama saya tinggalkan begitu saja. Baru kembali berlanjut esok siangnya, karena malam itu, memori-memori lampau mulai datang menyergap.

Namun saya akan senantiasa mengingatnya dengan penampakan di GOR dahulu, berkaos bendera UK penuh yang kekecilan dan berambut berdiri. Saya akan mengingatnya sebagai kawan yang baik, abang yang asik.

Tak akan mungkin melupakannya, seperti ingatan akan para sahabat lama yang dahulu turut membentuk diri saya menjadi seperti hari ini.

Terima kasih bang Dayat untuk waktu dan kenangan, semoga engkau bisa berjumpa Vivienne untuk menambal celanamu, juga titip salam kami untuk Eko si Kuda. Senang kalian disana.

Advertisement

One thought on “Mengenang Dayat Tanpa Ketua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s