SURAT

Ini merupakan jawaban dari beragam tuduhan M tentang sayalah pelaku tunggal atas kekerasan dalam relasi kami terdahulu. Proses dan siapa telah melakukan apa bisa ditemukan di surat panjang ini.
Terkait tuduhan M atas kekerasan seksual, saya jawab singkat; itu tidak pernah terjadi. Untuk detailnya silahkan dibaca di surat ini.
Surat ini juga memuat update tentang rencana tim penanganan independen yang dari sejak awal dinanti-nanti kabarnya.

Silahkan dapatkan suratnya disini atau bisa dibaca di bawah.
Terima kasih.




Surat Penjelasan dan Jawaban Terkait Tuduhan M
Saya tidak pernah berniat untuk menuliskan surat ini, pada awalnya saya pikir akan membiarkan masalah ini menguap dan usai begitu saja. Hingga kemudian beberapa teman terus meminta saya untuk mengeluarkan cerita ini. Cerita yang sebaiknya diketahui oleh banyak teman, hingga bisa lebih menjangkau di luar kemampuan verbal saya bercerita langsung.
Surat ini lumayan panjang, karena dibuat memang untuk menjelaskan banyak hal, berangkat dari beragam pertanyaan tentang kasus ini, yang selama beberapa waktu lalu ditanyakan beberapa teman. Surat penjelasan ini dimaksudkan untuk mempermudah proses menjawab, mengurai, menjelaskan, menceritakan apapun, yang lebih mudah rasanya bila berupa tulisan, sehingga respon lanjutan dari teman-teman setelah membaca pernyataan ini menjadi lebih efektif untuk saya tanggapi kemudian.

Surat ini saya keluarkan dikarenakan tuduhan bahwa sayalah pelaku tunggal, sayalah yang paling bersalah, saya pemicunya. Tuduhan-tuduhan yang diambil terburu-buru, serasa dihakimi beramai-ramai tanpa terlebih dahulu mendengar cerita langsung dari saya. Surat ini ditulis oleh saya sendiri, Andrew. Terkait masalah saya dengan pasangan saya sebelumnya, yang sebaiknya saya sebutkan saja dengan inisial M.

Mengapa Surat ini Baru Keluar Sekarang?
Pernyataan ini mungkin terbilang lama saya keluarkan. Setelah sekian bulan terlewati tak bersuara atau melakukan tindakan apapun yang berarti, yang sekiranya bisa memberikan penjelasan dari versi saya. Sehingga seolah pernyataan yang sudah lebih awal beredar di luar sana dari M menjadi penjelasan tunggal yang mesti diterima begitu saja.
Saya mengakui memang tidak memiliki kemampuan lebih dalam menceritakan persoalan pribadi saya, persoalan apapun itu. Saya meyakini biasanya akan munculnya tendensi kuat untuk membela diri sendiri seberapapun porsinya ketika bercerita kepada orang lain, sehingga ada hal yang akan dibuka sekaligus disembunyikan demi keuntungan diri sendiri dan menyalahkan pihak lain. Itu sebabnya saya hindari. Keliru mungkin, tapi itu menjadi alasan lain mengapa saya tidak pernah membuka masalah ini sebelumnya.
Adapun alasan kasus ini baru saya bicarakan kini dikarenakan M dahulu pernah menolak tawaran saya dan anjuran salah satu teman kami untuk membicarakan masalah ini kepada lingkar pertemanan kami, yang kemudian terlambat saya sadari, karena M justru membicarakan masalah ini ke banyak teman tanpa sepengetahuan saya.

Tertutupnya saya pada orang lain mungkin menjadi kebiasaan saya tumbuh, rasanya persoalan pribadi tak nyaman bila diketahui orang banyak, dan sebaiknya diselesaikan secara pribadi, kecuali memang (seperti pada kasus ini) kedua pihak merasa membutuhkan pendapat dari orang lain, yang mana M pada awalnya menolak pilihan ini.
Saya sadar kebiasaan tidak berbagi masalah pribadi adalah kesalahan pertama saya. Ini membuat saya mengabaikan gejala dari masalah yang akan membesar dan membiarkan kami berdua hidup dalam hubungan yang buruk. Bila masalah ini diselesaikan lebih cepat atau pendapat dari beberapa teman “relasi ini cepat diakhiri” dari awal dulu, mungkin ujungnya tidak akan seburuk ini.

Kesalahan kedua adalah kekerasan. Saya akui bahwa saya menampar, mencubit dan mendorong M dalam beberapa waktu yang berbeda. Kesalahan fatal yang memang tak seharusnya saya lakukan. Yang berikut ini akan saya jelaskan bagaimana kondisi dan proses terjadinya kekerasan tersebut.

Pola Kecemburuan dan Tuduhan tanpa Bukti dari M
Saya tidak memiliki banyak teman dekat. Dari sedikit teman itu, teman perempuan bisa terhitung jari tangan, karena saya memang tak pandai menjalin pertemanan dengan banyak teman perempuan, juga kondisi lingkar pertemanan saya selama ini tak banyak diisi teman perempuan.
Dari sedikit teman tersebut, baik laki-laki maupun perempuan, baik dekat maupun jauh hampir semua pernah dicurigai oleh M (yang berikutnya akan saya uraikan lebih lanjut). Terhitung ada tujuh orang/pihak yang pernah dicurigai, dimusuhi olehnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik teman ataupun adik-adik kandung perempuan saya sendiri. Tujuh orang atau pihak -karena adik saya ada tiga maka saya sebutkan sebagai pihak- itu dipermasalahkannya di waktu dan durasi yang berbeda-beda. Yang inti permasalahannya kemudian saya sadari adalah perilaku posesif dan upaya kontrolnya atas diri saya.

• Orang pertama yang dicurigainya adalah T, teman kuliah saya, hanya karena saya diajak bersepeda bersama.
• Orang kedua adalah S, adik perempuan teman saya, yang di tahun 2014 berkenalan untuk kepentingan wawancara karya. M langsung bertanya berentet dengan nada meninggi, kenapa saya mesti memenuhi permintaan bertemu dengannya. M hingga kini berteman baik dengan S tadi. Situasi ini pada awalnya membingungkan, yang kemudian lama saya sadari, bahwa pola mendekati orang tertuduh akan dilakukannya berkali-kali ke orang yang berbeda.
• Orang ketiga adalah Y, perempuan sekampung yang saya ketahui justru ketika di Yogya. Ketika itu Y menghubungi saya via Facebook, dengan maksud memperkenalkan dirinya karena kita sekampung, lagi-lagi M marah dan menuduh saya bermain-main dengan perempuan lain, mengulik dengan dalam siapakah Y, membongkar profil Y melalui sosial media. Semua tindakannya ketika itu masih saya respon dengan baik-baik. Semua pertanyaannya saya jawab, semua keributannya masih saya terima, meskipun ini sudah kali ke tiga tuduhannya tak berdasar dan tak terbukti, yang saya anggap ketika itu adalah perilaku wajar dari kehidupan berpasangan, karena saya memang tidak banyak pengalaman dalam berpacaran dan tidak memiliki wacana yang cukup tentang bentuk relasi yang sehat. Pertemuan dengan Y akhirnya tak pernah terjadi, pun saya selalu membatasi diri dengan Y karena saya merasa tidak enak dengan M, lebih baik saya menjauhi orang-orang yang bisa memancing amarahnya, begitu kira-kira kesimpulan saya ketika itu. Dan kembali, Y menjadi teman baik M hingga saat ini, setahu saya.
• Orang keempat adalah T, teman laki-laki saya. M terganggu dengan T karena menurutnya saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan T. Padahal kami intens bertemu ketika itu karena keterlibatan kami bersama warga di Gunung Kidul, yang membuat saya dan T beberapa hari dalam sepekan bolak balik Yogya-Gunung Kidul. M terganggu dengan hubungan saya dengan T, yang tentu membuat saya heran. Karena T adalah laki-laki dan M tahu persis bagaimana pertemanan kami selama ini yang tidak memiliki dorongan romantis atau seksual. Sehingga kecemburuan yang membabi-buta itu semestinya tidak perlu muncul. Saya juga mencoba mengejar tuduhan M tentang hubungan saya dengan T, apa maksud tuduhannya, pembagian waktu yang mana yang M maksudkan menjadi persoalan baginya, apa tindakan T yang tidak berkenan di hatinya, tapi M hanya diam, lalu kemudian mengakui kalau itu kesalahannya, seperti dia mengakui kesalahannya menuduh saya macam-macam dengan tiga teman perempuan sebelumnya.
• Yang kelima adalah ke tiga adik perempuan saya. M marah kepada saya dan kepada adik-adik saya. Dia marah dengan alasan yang sama dengan tudingannya terhadap T sebelumnya, yaitu perihal waktu. Terhitung dua kali di waktu berbeda dia berperilaku meledak-ledak di hadapan adik saya. Yang membuat salah satu adik saya tersinggung dan menyarankan untuk mengakhiri hubungan kami, karena sudah tidak beres dan tidak sehat bagi kami berdua, awal mula pertimbangan keputusan yang saya ambil sangat terlambat. M marah kepada saya karena menurutnya saya memberikan waktu lebih untuk ngobrol, bercanda kepada ketiga adik saya dibanding kepadanya. Saya sudah jelaskan bahwa amat jarang saya bisa bertemu adik-adik saya sekaligus, bagaimana saya sangat menyayangi dan merindukan mereka bertiga, mengingat domisili mereka jauh di luar Yogya, tapi itu tidak meredakannya, yang justru menunjukkan perilaku meledak-ledak berupa bersuara kencang dan melempar uang untuk membeli bensin di depan adik-adik saya, membuat saya malu. M di hari-hari berikutnya kemudian kembali mengakui kesalahan perbuatannya, bahkan mengakui rasa cemburu yang dimilikinya sudah berlebihan, meminta maaf kepada adik saya dan berkali-kali meminta maaf kepada saya.
• Yang keenam dan ketujuh akan saya paparkan lebih lanjut di bawah, karena terkait dengan pola obsesif dan kekerasan yang terjadi dalam hubungan kami.

Agresifitas dan Obsesi Kontrol yang Semakin Memuncak
Waktu itu rasanya sudah hampir bosan dan lelah menghadapi masalah serupa saban tahun, hingga akhirnya tuduhan-tuduhannya menemukan sasaran terbaru dan justru makin memburuk.

2017 saya aktif di Kulon Progo. Bersama banyak teman, kami mengerjakan banyak hal di sana. M kemudian mengulang tuduhan serupa, dia mencurigai A, teman perempuan saya. M menuntut hal buruk yang amat lambat saya sadari kefatalannya. Seperti bila saya sedang di Kulon Progo, dia akan terus-terusan berusaha menelepon saya, atau menghubungi teman lain bila saya sedang tidak membalas pesan-pesannya. Yang membuat saya terganggu.
M meminta informasi saya sedang dimana, di rumah siapa, A dimana, apakah A ada di sebelah saya? Apakah saya tidur menginap berdekatan dengan A? apakah ada orang lain selain saya dan A di tempat itu? apakah saya berboncengan dengan A (ini pernah membuat saya frustasi hingga membiarkan A membonceng saya dibelakangnya, agar M merasa terpenuhi tuntutannya, walaupun ini terdengar sangat konyol), apakah A pernah bertanya tentang masalah relasi berpacaran kami dan lain sebagainya. M juga secara simultan meminta saya mengirim foto lokasi saya sedang berada, apakah sekeliling saya ada A. Inilah hal buruk yang saya sebutkan di awal tadi sangat lambat saya sadari.

Di masa kecurigaannya pada A, M selalu berusaha mengetahui apapun yang saya kerjakan, kemana saya pergi, dengan siapa dan selalu mengecek isi ponsel saya. Yang ketika itu saya biarkan karena memang merasa tidak ada yang saya tutup-tutupi dan memang masing-masing kami dapat mengakses perangkat masing-masing.
Bicara tentang terbukanya akses pada masing-masing perangkat komunikasi kami, satu waktu saya pernah mendapati pesan pembicaraan M dengan S, iya, S teman perempuan tertuduh kedua tadi. Pembicaraannya tentang keinginan M untuk bisa tidur dengan laki-laki di Inggris, ini pembicaraan mereka ketika mereka memang sedang berada di Inggris. Yang tentu membuat saya terkejut dan kecewa.
Lalu saya tanyakan dengan baik-baik, tanpa kekerasan tanpa suara mendesak-desak. Apakah betul apa yang mereka bicarakan itu? Dia tampak tidak siap dan kebingungan, dia katakan itu hanya bercanda, tidak terjadi, itu sebatas keinginan tidak diniatkan. Dia menambahkan bagaimana mungkin itu bisa terjadi sedangkan dia tidak mahir berbahasa Inggris sehingga ada kendala bahasa. Lalu saya jawab bila tidak ada kendala bahasa maka itu akan terjadi? Dia bertambah panik.
Yang lalu saya tutup, tidak akan pernah ada yang tahu kebenarannya, apakah benar dia tidur dengan orang lain atau tidak, tidak ada yang pernah tahu. Ya sudah, saya terima jawabannya karena memang tidak ada gunanya itu saya perpanjang, saya menyadari tidak akan memeroleh jawaban apapun, syukur kalau itu tidak terjadi, kalau terjadi ya sudah saya maafkan. Itu terjadi di tahun 2018 di waktu relasi dan perilakunya yang makin memburuk dan serasa makin melelahkan bila masalah ini saya teruskan.
Saya ingatkan padanya bahwa saya tidak akan pernah lagi mengungkit-ungkit masalah itu, yang padahal rasanya saya lebih berhak menuduh-nuduhnya terus-menerus bila saya mengikuti pola posesif dan kontrol yang dibebankannya pada saya. Lagi-lagi dia hanya meminta maaf dan diam.

Kecurigan dan tuduhannya tidak melandai sama sekali. Dia sangat mudah curiga bahkan hanya karena A misalnya menggungah sesuatu di akun media sosialnya yang dalam imajinasinya unggahan itu dimaksudkan untuk saya. Ini terjadi berkali-kali. Menjadi salah satu penyebab pertengkaran lainnya.
Di masa-masa ini ketenangan saya terasa makin terusik, saya mulai mengalami penyakit migrain kambuhan, yang tak pernah muncul sebelumnya. Migrain ini biasanya kumat sehabis bertengkar dengannya. Di semua tas dan beberapa ruangan tersimpan obat migrain yang bisa sewaktu-waktu saya jangkau bila kumat, bahkan di tengah pertengkaran dengannya tak jarang saya berhenti sejenak untuk meminum obat.
Periode kecurigaannya dan permusuhannya pada A menjadi salah satu periode terlama, sekitar setahun M meributkannya. Membuat saya menjadi makin serba salah dalam bersikap pada A atau pada teman perempuan lainnya. Hingga satu masa kemudian membuat saya tersinggung ketika beberapa teman mendatangi saya dan serasa menuntut saya untuk tidak macam-macam pada M. Mereka mengatakan bahwa satu hari M menangis hebat di depan kelompok teman mereka, semacam mengadu karena kecurigaannya pada saya dan A. Situasi ini membuat hubungan pertemanan saya dengan mereka menjadi renggang, karena rasanya saya yang disalahkan orang-orang, merasa hubungan privat tiba-tiba menjadi urusan semua orang.

Berakhirnya Relasi Saya dengan M
Di tahun 2018 akhir atau 2019 awal, saya teringat saran adik saya di tahun sebelumnya, untuk mengakhiri relasi ini, yang saya pikirkan kemudian memang sudah seharusnya cepat diakhiri. Ini kemudian saya tindak lanjuti dengan berbicara baik-baik pada M, kami duduk berdua dan saya katakan bahwa saya sudah tidak sanggup. Saya menyerah. Tidak lagi sanggup menjalani hubungan, melayani keinginannya, menjawab pertanyaan-pertanyaannya, memaklumi kecemburuan, obsesi-obsesi dan keagresifitasannya pada urusan pribadi saya. Saya sudah tidak lagi merasa damai pada relasi kami, merasa apa yang kami mau dan cari saling bertolak belakang. Saya yang ingin menjalani kehidupan dengan damai sangat berbeda dengannya yang sepertinya lebih termotivasi untuk memunculkan masalah yang sudah sekian kali tidak terbukti.
M menjawab dengan enggan. Dia mengatakan untuk diberikan kesempatan berubah. Saya juga tidak tega melihatnya ditinggalkan begitu saja, kami sudah berpacaran lama sekali, saya sudah dekat dengan keluarganya pun begitu sebaliknya, kami sudah saling membantu di waktu-waktu tersulit, saya merasa kami bukan lagi sedang berpacaran, sudah melampauinya, hanya saja saya tidak bisa menentukan apa istilah yang pas untuk relasi semacam ini.
Saya hanya terdiam mendengar keengganannya. Saya paham jawaban dan perasaannya. Saya katakan berikutnya adalah bahwa saya tidak akan pernah lagi menanyakan urusan-urusan pribadinya, tidak akan lagi membuka akses terhadap ponsel saya kepadanya, saya tidak akan menghalanginya kemanapun atau dengan siapapun dia akan berhubungan. Dan meminta padanya untuk melakukan hal yang sama. Kita sudah putus, di tahun itu. Baik dia terima atau tidak. Dia hanya menangis sambil terus-terusan meminta maaf, dan membuat saya tidak tega untuk melanjutkan pembicaraan.

Pembicaraan serupa berlangsung tiga kali dalam periode waktu yang berbeda-beda, karena dalam periode waktu itu M masih saja intens menuduh-nuduh saya, seperti tanpa akhir. Tiga kali kami duduk dan berbicara soal bagaimana hubungan kami lebih baik usai. Saat itu juga, berkali-kali saya ingatkan dia untuk mengontrol dirinya sendiri terhadap obsesinya pada diri dan kehidupan saya, berkali kali juga saya ingatkan bahwa kita sudah selesai, sudah putus. Kita hanya setuju melewati waktu transisi sebelum masing-masing dari kita akan siap sepenuhnya meninggalkan diri. Dan dari awal dia sudah menyetujui proses transisi ini. Putusnya hubungan ini terjadi tanpa seorang pun yang mengetahui dari mulut saya. Entah kalau darinya.

Periode Kekerasan Fisik dan Pelanggaran Privasi
Tapi waktu transisi ini tidak berjalan tenang, M kemudian menyasar teman lain di waktu yang simultan dengan A tadi. Belum selesai masalah kecurigaannya pada A yang berlarut-larut, kemudian meloncat dan berjanjut pada K. Teman perempuan lain yang saya kenal justru ketika M yang membawa dan menyarankan saya untuk menemani K bila ingin terlibat di Kulon Progo. Di sinilah waktu-waktu terburuk bagi kami berdua, awal mula kekerasan mulai terjadi.

Kekerasan fisik pertama kali terjadi bukan dari saya, tapi justru dari M. Waktu itu kami sedang berjalan-jalan di sekitar rumah warga, kondisi petang menjelang malam. Dari dalam rumah, warga memanggil kami semua untuk segera masuk ke rumah, bersiap makan malam. Yang tentu segera kami patuhi, tiba-tiba M menarik lengan kiri saya dengan kasar, mencengkram dengan semua kuku tangannya, yang membuat lengan atas saya terluka dan berdarah. Saya terdiam mematung, kebingungan pada kejadian yang berlangsung cepat itu. M menoleh lengan saya yang mulai meneteskan darah sambil berkata meninggi;

“kenapa sih buru-buru mau masuk?! Karena ada K ya di dalam?!”
Saya menahan diri sebisanya dengan buru-buru meninggalkannya dan berusaha menutupi luka tadi, yang kemudian sambil menyengir M berkata di belakang saya;
“Kenapa? Sengaja ya biar lukamu dilihat teman-teman? Mau mengadu?”

Malam itu kami lewati dengan saya yang banyak diam, dan berusaha agar tak satu temanpun mengetahuinya, dan perasaan saya berbeda begitu melihat M. Rasanya saya sudah makin tidak mengenalnya. Saya sadar kekerasan sudah dilakukan olehnya.

Keributan akan K makin memburuk, M selalu meributkan hal serupa berkali-kali, menuntut jawaban dari pertanyaan yang sudah berpuluh kali ditanyakan dan saya yakin dia hapal betul jawaban saya. Hingga saya tak pernah paham kenapa selalu diributkan.

Kekerasan fisik oleh saya terjadi ketika kondisi saya merasa didesak. Tidak serta merta terjadi begitu saja tanpa alasan, dan tidak terjadi setiap hari seperti yang selalu dia kabarkan di media sosialnya.
Saya yang hendak pergi menemui teman-teman kemudian dihadang keluar oleh M. Menanyakan dengan mendesak hal-hal yang sudah saya ingatkan berkali-kali bahwa tidak lagi ada kewajiban dari saya untuk melayani pertanyanan-pertanyaannya, dia terus bertanya saya hendak kemana, apakah ada K di sana, ada rencana apa antara saya dengan K. Sikap mendesaknya itu lebih terasa seperti interogasi, meninggi dan menantang, dengan tangan di pinggang dan wajahnya yang berada hanya sejengkal dari saya, seolah menjadi interogator yang bisa mendeteksi kebohongan dari alis atau raut wajah saya, sangat menjengkelkan. Saya memaksa pergi dan menghabiskan sore hingga malam dengan perasaan terhantui oleh M yang akan terus memaksa-maksa.
Begitu pulang, M kembali mengajak ribut, dengan pertanyaan-pertanyaan yang hampir mirip, yang dia kemudian memakai pernyataan pamungkasnya;

“kalau tidak ada yang ditutupi kenapa tidak menjawab?”

Yang tentu jawaban saya berulang pada apa kewajiban saya mesti menjawabnya, untuk memenuhi obsesinya? Karena kita sudah putus.
Keributan ini berlangsung satu jam lebih, hingga saya memilih menyerah dan mengatakan hendak istirahat. M tampaknya juga lelah, dan saya bersiap-siap tidur. Setengah tidur, tak lama tiba-tiba dia datang kembali sambal beberapa kali menyolek membangunkan dengan gestur sangat menjengkelkan, mengajukan rentetan pertanyaan yang sama, dengan posisi wajahnya dekat sekali ke wajah saya, seperti menantang, yang membuat saya tidak lagi mampu menahan diri, bangkit dari posisi tidur hingga saya menamparnya. Saya katakan:

“apa harus begini cara kita berkomunikasi? Ini sudah hampir subuh. Tidak bisakah kamu menahan dirimu semalam saja untuk tidak ribut? Harus malam inikah kita ngobrol? Tidak bisakah dirimu untuk tidak
memancing keributan?”

Di waktu yang lain dia juga pernah menarik paksa saya dari balik pintu utama ketika dua orang teman menjemput saya untuk pergi ke urusan yang lain, perilakunya itu berusaha saya sembunyikan dari pandangan mereka.
M juga pernah menjambak rambut saya tiga kali ketika saya sudah tertidur lelap di samping teman saya yang kebetulan menginap. M menjambak saya tiba-tiba di tengah gelapnya ruangan hanya karena dia ingin mengetahui dengan segera pulang dari mana kami berdua, di saat seperti inilah kekerasan itu kemudian muncul dari saya. Karena dia memancing, seperti jika kita hanya sekadar bertengkar mulut dia tidak akan puas dan kemudian memancing lagi lebih keras dan agresif bahkan ketika saya hendak atau bahkan sedang tertidur.
Di saat-saat itulah kekerasan dari saya muncul, karena dia yang melakukannya pertama kali, dan berulang kali didesak olehnya untuk melayani agresifitasnya hingga berbicara dan berdebat tak lagi ada gunanya.

Selain kekerasan yang juga dilakukannya, pengawasan tersembunyi juga dioperasikannya. Dia pernah membiarkan ponselnya menyala beberapa hari di ruangan tengah, dengan kondisi merekam suara. Yang setelah saya periksa file demi file, semua isinya adalah rekaman suara dan aktivitas harian saya selama sendiri di rumah. Rekaman berhari-hari lamanya. Dia melakukan ini memang untuk mengawasi aktivitas saya tanpa sepengetahuan saya. Ini sudah pernah saya konfirmasi padanya. Yang kemudian membuat saya ngeri jangan-jangan ada cctv tersembunyi yang dipasangnya diam-diam. Juga beberapa kali M merebut ponsel saya untuk memeriksa isi percakapan dan isi media sosial saya.
Itu hanyalah kejadian yang saya ketahui, saya meyakini ada bentuk pengawasan lain yang dilakukannya di luar pengetahuan saya. Misal dengan mengawasi melalui bantuan orang lain ketika saya sedang bersama teman-teman (ini bahkan diakui olehnya dan oleh banyak teman yang belakangan bertemu saya ketika masalah ini mengemuka), atau bahkan ketika saya ke wc di tengah-tengah acara warga, dia membuntuti. Beberapa kali saya dapati dia berada di belakang saya ketika di jalan raya, menurut saya dia membuntuti tapi menurutnya itu sekadar kebetulan. Kebetulan tentu tak mungkin terjadi berulang kali.
Tindakannya itu sangat kontras dengan antusiasmenya di media sosialnya dalam mengkampayekan pentingnya kesadaran privasi, penghentian hasrat menjadi polisi dalam pikiran bawah sadar dan pentingnya kemananan digital. Saya pernah mengatakan padanya bahwa dia sudah menyerupai intel. Menjadi musuh dari pesan-pesannya selama ini. Seperti polisi yang selalu ingin mengawasi. Pihak yang mutlak dia musuhi sendiri. Tapi peringatan itu diabaikannya.
Tapi bagaimanapun saya mengingatkannya untuk mengerti batasan personal, dia tidak mau pernah peduli, wilayah-wilayah privasi selalu saja dilanggar. Sementara saya sama sekali tidak pernah memaksa untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Di sinilah kekerasan itu terjadi, dia yang mendesak-desak untuk diberikan jawaban yang hanya mau dia dengar, meskipun itu terdengar mustahil.


Terkait Isu Kesehatan Mental
Seperti di awal saya sebutkan tadi, bagaimana M mencurigai hampir semua teman saya.
Saya kehabisan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, dan saya anjurkan untuk dia bertanya sendiri pada teman-teman saya. Dia ternyata mencurigai dan tidak memercayai satupun teman dekat saya karena menurutnya mereka semua, saya ulangi, mereka semua, melindungi hubungan gelap saya dengan A ataupun K. Imajinasi yang membuat saya melongo. Siapakah saya hingga mendapat perlakuan khusus semacam itu? Menuduh semua teman saya berkonspirasi menutupi saya. Saya katakan padanya bahwa itu adalah penghinaan pada integritas mereka. Seolah semua mereka serendah itu.

Permasalahan posesif, hasrat mengawasi dan mengontrol yang dimilikinya selama ini mempunyai alasan -setidaknya begitu menurutnya. Alasannya adalah masalah mental.
Sebenarnya saya merasa risih dan tidak berhak untuk menceritakan kondisi mental orang lain ke publik, itu adalah persoalan yang sangat personal. Tapi masalah mental ini menjadi salah satu pemicu yang memberi pengaruh cukup hebat dalam hubungan kami selama beberapa tahun belakangan, dan M sejauh ingatan saya sangat terbuka dan sering membuka kondisi mentalnya di media sosialnya.
M mengakui sudah berkonsultasi ke psikolog, ini baru diakuinya di tengah periode A, dan di tahun terakhir ketika masalah ini makin meribut, dokternya menemukan diagnosa terbaru dari dirinya, yang lalu dia katakana sendiri ke saya; memburuk.
Yang kemudian saya nilai bahwa semua jawaban saya selama ini, saran dari teman yang dipercayainya, saran dari psikolognya sendiri tidak didengar dan diturutinya sama sekali. Saran dokternya yang menyarankan dirinya sendiri untuk berhenti asal menuduh, karena itu hanya akan membuat relasi kami makin memburuk.
M berkali-kali bercerita kepada saya bahwa apa yang menyebabkannya mudah cemburu menurut dokternya adalah karena faktor depresi, kecemasan, kemungkinan yang pada awalnya masih saya dengarkan dan percayai, dan saya masih mengantar/jemputnya beberapa kali ke klinik psikolognya di daerah Terban, jadi adalah bohong bila M mengatakan saya tidak pernah peduli pada permasalahan mentalnya.
Tapi lama kelamaan saya merasa isu mental itu menjadi alasan baginya untuk terus menerus menyerang dan menyakiti saya, memaksakan saya untuk turut hidup, terseret dalam imajinasinya yang penuh dengan karangan pikirannya sendiri karena tak ada satupun tuduhannya yang terjadi dan terbukti.
Tentu saya anggap karangan, mungkin penilaian saya ini keliru, bisa jadi baberapa dari kalian tersinggung membaca ini. Tapi pikiran itu saya ambil atas kekecewaan, kebingungan dan kemarahan bertahun-tahun atas sikapnya. Kebingungan yang membuat hubungan sosial saya menjadi serba salah. Kesalahan yang bukan timbul dari tingkah saya, tapi justru saya yang selalu dituduh dan bersalah atas hancurnya relasi kami.
Saya katakan karangan karena dia sudah meminta maaf kepada hampir semua orang/pihak yang pernah dia curigai atau cemburui. Tuduhan yang tidak pernah terbukti tapi dia akan mengulangi pola serupa terus menerus. Dan dia sudah mengakuinya sendiri pada saya, bahwa dia bisa membaca pola yang berulang terus menerus ini, tapi dia senantiasa melakukannya lagi. Hingga detik ini pun perilaku menyalahkan orang lain tanpa mau terbuka mengkoreksi kesalahannya sendiri masih saja dilakukannya. Silahkan cek media sosialnya. Tidak sekalipun dia terbuka atas kesalahannya.
Saya bahkan pernah bertanya padanya untuk menyebutkan satu saja kesalahan yang pernah saya lakukan terhadapnya, apakah pernah saya mengkhianatinya? Apakah pernah saya main curang di belakangnya (seperti keinginannya untuk tidur dengan laki-laki lain tadi), kesetiaan macam apa yang mesti saya berikan, sehingga dia merasa lebih berhak menuduh saya. Siapa dia, apa yang dimilikinya yang membuat saya harus menerima semua tuduhannya, apakah karena dia memiliki masalah mental lantas harus dimaklumi begitu saja segala perilakunya?
Apakah dia iri melihat bermacam persoalan teman-temannya yang menurut ceritanya sendiri kepada saya bahwa teman-temannya memiliki masalah relasi alias perselingkuhan, sementara saya tidak pernah melakukannya, apakah dia iri karena saya tidak bertingkah seperti pacar teman-temannya, apakah dalam hidupnya ingin drama? Tak bisakah dia sedikit saja mensyukuri relasi baik yang sebelumnya pernah terjadi di antara kami? Dia hanya terdiam sembari saya menunggu jawaban pada apa sesungguhnya kesalahan saya. Dan hingga detik ini, pertanyaan akan adakah kesalahan saya dalam menjalin kesetiaan dengannya tidak pernah dijawabnya.

Melihat kasus ini, saya belajar beberapa hal, bahwa kekerasan tidak hanya berupa fisik tapi juga berupa kekerasan psikis. Apa yang dilakukan M seperti tuduhan, pengawasan, kecurigaan, upaya kontrol, pemaksaan hubungan bertahun-tahun pada saya adalah kekerasan psikis. Dia telah melakukan dua jenis kekerasan pada saya, kekerasan fisik dan psikis.


Perpisahan yang Baik-baik dan Reaksi M yang Berbanding Terbalik
Pada Juni lalu kondisi komunikasi kami makin memburuk, semakin sering bertengkar, sama-sama tak lagi mampu mengontrol diri. Kemudian saya harus pergi meninggalkannya dan saya katakan sebelum kita berpisah bahwa saya ingin bicara, baik-baik, menyelesaikan apa yang tersisa, dia setuju.
Kita bertemu dan berbicara berdua, sama-sama mengakui kesalahan, saling meminta maaf karena hubungan yang semestinya berjalan mudah ini harus berakhir seperti ini. Kami berdua menangis, berpelukan.
Ketika tiba memberikan ucapan perpisahan dia berkata bahwa dia masih menyayangi saya, tapi dia sadar bahwa demi kebaikan bersama kami memang semestinya berpisah, baik-baik.
Saya menambahkan tanda setuju, meminta maaf atas perbuatan saya, kekerasan yang saya lakukan. Juga meminta maaf karena saya sudah tidak lagi merasa mengenalinya, perasaan saya terasa diperas habis selama beberapa tahun belakangan, tidak mungkin lagi bisa dipulihkan.

Perpisahan itu kami sepakati diakhiri dengan baik, yang artinya saya dan M saling mengakui kesalahan dan perbuatan destruktif masing-masing, tapi ternyata beberapa lama kemudian M menyebarkan kabar yang seolah menjadikan saya sebagai pelaku tunggal di Twitter dan media sosialnya, menyembunyikan sejarah perilakunya terhadap saya, obsesi dan kontrolnya, pengawasan dan pelanggaran privasinya, kekasarannya serta kengerian imajinasinya.
Dia mungkin terdorong melakukan itu karena dia mengetahui bahwa saya tidak berada di Twitter dan media sosial saya dan banyak teman lainnya yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan permasalahan kami di-block olehnya, atau dia memang paham bahwa saya tidak akan mampu menandingi energi ‘berbagi’ persoalannya kepada publik sebagaimana yang selama ini dia lakukan. Sehingga jawaban saya bisa jadi akan terlambat setelah dia menyebarkan berentet cerita yang tidak semuanya pernah terjadi.

Kemungkinan lain atas kemarahan M yang kemudian berlarut bisa jadi dikarenakan dia merasa menemukan kebenaran pada tuduhannya atas K. Karena memang saya akui bahwa saya dan K baru pada bulan Mei tahun ini mulai dekat. Kedekatan ini pun dikarenakan ketika bulan Maret, saya dan beberapa teman terseret masalah kekerasan seksual, yang mana saya justru merupakan salah satu korban, yang membuat kami memilih K sebagai rantai penghubung komunikasi penyelesaian masalah.
Sejak itu saya dekat dengan K, yang artinya sudah jauh sekali waktunya setelah hubungan dengan M sudah usai, jauh setelah M mencurigai K, yang seharusnya ini sah-sah saja, karena saya ulangi, kami sudah lama putus. Seperti keleluasaan yang saya katakan pada M untuk membuka dirinya pada orang lain sejak kami membicarakan putusnya hubungan, bertahun-tahun lalu.
Baik saya dan K tidak memiliki hubungan spesial apapun di tahun-tahun sebelumnya. Saya memperlakukannya sama dengan teman perempuan lainnya, begitu juga sebaliknya. Terlebih di masa ketika hubungan saya dan M masih bertahan. Karena saya selalu berusaha menghormati komitmen relasi.

Tentu ada beberapa cerita yang tidak elok saya sampaikan di sini walau dorongan untuk membuka semua perbuatannya yang tidak nyaman kepada saya sah-sah saja bila saya lakukan, mengingat M justru melakukan itu lebih sporadis melalui media sosial dan pembicarannya di belakang seperti yang terjadi selama ini. Toh surat ini harus keluar dikarenakan M yang sudah memulainya, yang membuat saya mesti memberikan penjelasan, cepat atau lambat.

Maka surat panjang ini akan saya akhiri dengan permohonan kepada teman-teman untuk melihat persoalan ini dengan lebih jernih dan seksama.
Sekali lagi, saya akui kesalahan saya seperti di awal pembuka surat ini. Saya melakukan kekerasan pada M. Juga seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya ketika perpisahan kami beberapa bulan lalu kepada M, saya kembali meminta maaf dengan sangat menyesal. Atas kekerasan yang pernah saya lakukan. Meskipun dia berkali-kali mengabarkan di media sosialnya bahwa saya tidak pernah mengakui dan meminta maaf kepadanya.
Seperti perspektif ‘berpihak kepada korban’ yang selama ini kita percayai, saya berharap juga diberikan ruang untuk bisa menjelaskan dan didengar. Bahwa masalah ini rumit, tidak hitam putih dan bagi saya kami berdua adalah korban sekaligus pelaku, karena sama-sama melakukan kesalahan dan sama-sama menyakiti.
Saya juga merasa sebagai korban, yang mengalami kekerasan, manipulasi, pemaksaan mengakui tuduhan, pengawasan, kecurigaan, dan kontrol oleh M, hal yang tentunya tidak pernah diakuinya ke publik.
Saya juga memahami bila teman-teman tidak lantas percaya begitu saja pada semua isi surat ini, bahwa tak otomatis saya benar. Tapi sebaiknya pilihan itu ditempatkan juga pada bagaimana kalian melihat apa yang selama ini diberitakan M, agar berimbang, tidak berdasarkan siapa yang lebih dulu mengatakan apa, atau karena faktor kedekatan pertemanan atau bahkan karena faktor gender yang membuat bias, bahwa karena dia perempuan yang otomatis membuat dia benar sepenuhnya? lantas bila laki-laki merasa sebagai korban tidak otomatis dipercayai, sikap dan perspektif ‘berpihak kepada korban’ tentunya harus proporsional.

Terima kasih.
28 November 2021


Surat di atas merupakan surat penjelasan yang saya tulis pada November tahun lalu dan diberikan hanya ke beberapa teman yang mendesak saya untuk memberikan penjelasan, saat dimana tuduhan kekerasan dia lancarkan pada saya tanpa menjelaskan konteks dan perannya dan sebelum tuduhan perkosaan mengemuka.

Di bawah ini adalah update berupa jawaban saya terkait tuduhan M tentang perkosaan di Twitternya:
Tentang ucapan M yang mengatakan bahwa saya pernah memperkosanya, saya tegaskan itu tidak pernah terjadi. Saya tidak pernah memaksanya melakukan hubungan seksual. Sejauh ingatan saya, dulu sekali sekitar tahun 2011 an saya pernah mengajaknya melakukan hubungan seksual, ketika itu dia menolak, lalu saya bercanda menanyakan “kenapa? Cuma sebentar kok”, yang kemudian setelah itu saya tidak memaksa lagi, karena dia memang sedang tidak menginginkannya, dan saya tahu apabila itu dipaksakan, masalah akan timbul di antara kami berdua.
Bercanda sejenis juga pernah dilontarkannya, saya anggap sebagai gurauan nakal darinya, selayaknya pasangan. Kemudian saya memang menyadari ucapan saya dulu itu salah dan keliru, tapi itu terjadi jauh sekali sebelum saya mendapatkan pengetahuan dan pergaulan yang memadai tentang hubungan yang sehat. Karena setelah itu pemaksaan dalam bentuk apapun tidak pernah saya lakukan.
Justru M yang kerap datang menghampiri saya sambil meraba-raba tubuh dan organ vital saya di tengah malam ketika saya sudah tertidur sehabis bertengkar hebat. Apakah mungkin seseorang mengaku diperkosa tapi malah meraba-raba orang yang dituduhnya memperkosa dirinya? Lagipula selama ini dia tidak pernah mengatakannya kepada saya kalau itu pernah terjadi, saya bisa memahami ketakutan dari korban kekerasan seksual yang umumnya diam dan tunduk pada dominasi dan hegemoni pelakunya, tapi dalam relasi kami dahulu justru M yang paling agresif, yang mestinya tidak menghalanginya untuk menyampaikan masalah itu kepada saya dulu atau kapanpun dia bisa, saya tidak bisa memahami kenapa tuduhan ini baru muncul sekarang.
M juga pernah menggunakan hubungan seksual sebagai usaha manipulasinya dalam menekan saya. Dengan dia mengajak berhubungan seksual, lalu ketika selesai, dengan tubuh yang masih di kasur, telanjang dan baju masih berserakan, lalu dia setengah bangkit sambil berpangku sebelah tangannya, mendekatkan wajahnya sambil bertanya dengan menyeringai “kamu sudah gini ya dengan A?” sambil melirik kebagian bawah tubuh saya.
Saya terkejut seketika, tersentak, terdiam, merasa ngeri sekaligus marah atas kesanggupannya menggunakan aktivitas intim sebagai sarana untuk memainkan tuduhan-tuduhannya. Aktivitas yang seharusnya sebagai pasangan yang sehat pikirannya melakukan dan menghormati aktivitas tersebut sebaik-baiknya, bukan malah menggunakannya sebagai alat pengelabuan sebagai jalan untuk memuaskan hasrat tuduh menuduh dan kontrolnya.

Bagian eksplisit ini awalnya saya urungkan untuk dituliskan di surat pertama yang mulai beredar sejak November tahun lalu, karena saya masih berusaha menghormatinya, tapi dikarenakan isu perkosaan adalah tuduhan yang serius, maka saya harus menjawabnya dengan menceritakan kejadian di atas yang memang tak semestinya menjadi konsumsi publik.

Update Tim Independen
Saya pernah mendengar rencana pembentukan tim independen untuk mengurai kasus ini pada akhir 2021 lalu, yang baru terdengar kemudian rencana kongkritnya pada bulan Februari setelahnya. Begitu mendengar saya bersemangat, saya katakan pada teman yang menginisiasinya bahwa saya sangat setuju dan terbuka pada rencana tim ini, saya setuju akan bentuk penanganan kasus berupa tim investigasi dan siap memberikan apapun bentuk partisipasi yang tim butuhkan dari saya, entah itu wawancara, sidang, investigasi atau yang lainnya. Intinya saya siap dan terbuka, karena ini bisa jadi awal untuk menguak kebenaran seterang-terangnya.
Namun berhari-hari kemudian saya tidak kunjung mendapatkan update apapun dari rencana pembentukan tim. Secara personal saya sudah menanyakan beberapa orang dan secara formal saya sudah berkirim surat kepada kelompok inisiator tim untuk diberikan update. Hingga surat ke tiga tak juga dibalas. Yang membuat saya semakin bingung dan akhirnya mencari informasi ke teman yang bisa dijangkau tentang nasib dan kelanjutan tim tersebut.
Kabarnya tim gagal, tidak bisa bekerja karena M tidak bersedia mengikuti prosesnya, katanya dia tidak siap, ingin menenangkan dirinya, juga munculnya ketidak percayaannya M kepada tim. Tentu ketidak setujuannya membikin saya makin bingung. Karena pertama, M pernah mati-matian membela tim yang mirip dibentuk di Jakarta pada kasus kekerasan seksual yang menimpa sebuah serikat pekerja kreatif dan ketika itu M masih bersedia mendengar keluh kesah ketua sekaligus tertuduh serikat tersebut, tentu kontradiktif, kalaupun adanya ketidak percayaan, dia bisa saja mengirimkan pendamping yang dia pilih sendiri sebagai anggota tim. Yang kedua M justru selalu siap dan rajin menceritakan nasibnya di media sosialnya tapi kenapa justru tidak siap memberikan keterangan sejenis kepada tim yang sudah dipastikan integritasnya, karena format anggota tim diisi oleh perwakilan lembaga hukum dan lembaga perempuan yang sudah memiliki pengalaman dalam menangani permasalahan serupa dan sudah dipastikan keobyektifannya. Saya dan teman-teman dekat sama sekali tidak dilibatkan dalam kerja tim, demi menghindari intervensi. Kebingunan yang ketiga adalah bila perspektifnya adalah ‘berpihak pada korban’ mestinya saya juga berhak difasilitasi untuk didengarkan, karena saya juga merasa sebagai korban, apakah karena saya laki-laki lantas tidak berhak menjadi korban dan apakah karena bukan saya yang memulai berkoar-koar di media sosial membuat saya tidak pantas didengar dan otomatis bersalah?

Saya ingin sekali mendapatkan jawaban resmi dari tim independen tersebut, karena uraian diatas adalah kabar dari kelompok inisiator tim yang posisinya eksternal dan tentu tidak bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya, jawaban sah ada pada tim. Tapi hingga hari ini saya tidak mendapatkan jawaban resmi apapun dari siapapun, dan M semakin rajin menuduh-nuduh saya sekaligus makin lihai menyembunyikan sejarah perilaku destruktifnya.

Saya juga merasa mesti menjawab tuduhannya yang berkali-kali mengatakan bahwa saya dilindungi kolektif/komunitas/gerakan/aktifis Jogja. Memang jawaban ini mestinya dikeluarkan oleh kelompok yang dituduhnya melindungi saya. Tapi siapa kelompok yang dimaksudkannya saya tidak tahu persis.
Saya tidak tahu dari mana M mendapatkan informasi sesesat ini, karena begitu kasus ini menyeruak, teman-teman memutuskan untuk tidak melibatkan saya dalam jaringan aktifitas mereka. Saya juga cukup tahu diri untuk menjaga jarak dengan mereka sebelum masalah ini diurai untuk mencari tahu kebenarannya. Saya mengatur jarak karena memang merasa sudah ada jarak yang mereka bangun dari berbagai waktu pertemuan yang serba canggung dan saya menghormatinya agar mereka tidak terseret dalam masalah ini. Jarak mereka ini bisa berupa ‘keengganan’ untuk merespon surat permohonan informasi tadi yang tidak dijawab sama sekali misalnya, itu sudah menunjukkan adanya tembok pembatas yang dibangun di banyak teman dan komunitas terhadap keberadaan saya. Jadi tuduhan sporadis M adalah mengada-ada.

Untuk mengakhiri surat ini, saya kembali bertanya, tentang makna sesungguhnya dari ‘berpihak pada korban’. Apakah harus diwujudkan membabi buta tanpa bersedia mendengar, mengetahui, mengonfirmasi dan memahami konteksnya terlebih dahulu? Sehingga kebenaran hanya dimiliki oleh mereka yang paling awal dan yang paling kencang menyebarkannya, atau hanya diperuntukkan kepada gender tertentu?

18 April 2022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s