Bebaskan Dirimu dari “Lingkaran” Itu!

Bebaskan Dirimu dari “Lingkaran” Itu!

Siska, kenapa kau buat lingkaran? Lingkaran yang mengelilingi dirimu. Lingkaran itu bisa membahayakanmu! Cepat, jangan sampai terlambat! Segera bebaskan dirimu dari lingkaran itu!”

newsBel tanda istirahat berbunyi. Murid – murid kelas lima berhamburan keluar kelas. Akan tetapi, Siska tetap duduk di bangkunya. Anak berwajah manis dan berambut ikal itu terlihat tidak bersemangat.

Siska, istirahat yuk!” ajak Amel, teman sebangkunya.

Siska menggelengkan kepala. “ Aku ingin di kelas saja, membaca buku!”.

Apa kamu enggak lapar? Ayo kekantin, nanti aku yang traktir!”.

Siska tersenyum. “terimakasih! Aku bawa bekal dari rumah!” elak Siska.

Amel mengangkat bahu, lalu berlari meninggalkan kelas. Setelah Amel pergi, Siska mengeluarkan secarik kertas dari saku seragam sekolahnya. Kertas itu ia temukan pagi tadi di laci meja kelasnya. Sekali lagi Siska membaca pesan dikertas itu.

Siska, kenapa kau buat lingkaran? Lingkaran yang mengelilingi dirimu. Lingkaran itu bisa membahayakanmu! Cepat, jangan sampai terlambat! Segera bebaskan dirimu dari lingkaran itu!

Siska tercenung. Sudah lima hari ini, setiap pagi, ia selalu menemukan secarik kertas di laci meja. Isinya pun selalu sama. Siska binggung dengan isi pesan itu. Apa maksudnya dengan lingkaran? Ia tidak pernah membuat lingkaran dan tidak pernah ada lingkaran yang mengelilingi dirinya. Siska juga tidak tahu siapa penulis pesan itu. Apakah salah satu dari temannya?

Sebelum bel tanda istirahat berakhir berbunyi, Siska menulis pesan balasan untuk penulis pesan misterius itu.

Teman, siapakah dirimu? Aku sungguh tidak mengerti maksud pesanmu itu. Bolehkah kita bertemu?

Besoknya, Siska datang ke sekolah pagi – pagi sekali. Dengan berdebar – debar, ia perikasa isi laci mejanya. Ia tersenyum senang saat melihat secarik kertas. Dengan tidak sabar, Siska segera membacanya.

Boleh saja bila kamu ingin berteman denganku. Hari ini sepulang sekolah, aku akan menunggumu di perpustakaan. Jangan lupa ya! Sampai ketemu!

Siska tidak sabar lagi menunggu waktu pulang tiba. Ia bersorak ketika bel tanda waktu pulang beberbunyi. Siska menunggu dulu, sampai semua teman – temannya keluar kelas. Setelah itu, Siska segera menyambar tongkatnya dan bergegas menuju ke perpustakaan.

Perpustakaan terlihat sepi. Siska duduk dengan gelisah. Sudah setengah jam ia menunggu, tetapi orang yang dinanti belum datang juga. Jangan – jangan aku dikerjain, guman Siska.

Tiba – tiba, Siska melihat Bu Halidah, wali kelasnya, memasuki ruang perpustakaan. Bu Halidah langsung menghampiri Siska dan duduk di samping Siska.

Maaf ya Siska, Ibu terlambat! Tadi ada tugas yang harus Ibu selesaikan,” kat Bu Halidah. Siska agak binggung, kenapa Bu Halidah yang datang?

maaf, Bu! Kenapa Bu Halidah datang menemui saya?” Bu Halidah tersenyum. “Siska, Ibulah yang menulis pesan misterius itu.”

jadi Ibu…?” Siska terkejut. “ Tetapi, kenapa ibu melakukan ini?”

Bu Halidah mengusap rambut Siska. “ Siska, Ibu sangat sedih melihatmu. Kamu adalah murid yang paling pandai. Kamu selalu ceria, ramah, dan suka menolong teman. Akan tetapi, sejak kecelakaan mobil itu, kamu jadi berubah. Kamu selalu murung dan menyendiri.”

Saya malu kerena harus memakai tongkat, bu!”

tetapi, menurut dokter, kakimu masih bisa sembuhkan?” tanya Bu Halidah.

Siska mengangguk. “ Siska, sejak kecelakaan mobil itu, kamu seakan-akan membuat lingkaran sendiri, kamu berada dalam lingkaranmu tidak mengizinkan temanmu masuk kedalamnya. Kamu sendiri yang menbuat jarak dengan teman – temanmu.”

saya takut mereka akan mnengejek dan tidak mau berteman lagi dengan saya, bu!”

Siska, apakah teman – teman ada yang mengejek atau mengucilkanmu?”

Siska menggelengkan kepalanya.

kalau begitu, cepat hapus lingkaran itu, Siska! Kembalilah ceria seperti dulu!”

Siska mengangguk. “ saya janji Bu! Mulai besok, saya akan kembali seperti dulu.”

Bu Halidah tersenyum sambil mengusap lagi rambut Siska. “ Nah, begitu dong! Baru namanya murid Ibu!”

Tiba – tiba, teman – teman sekelas Siska masuk ruang perpustakaan. Mereka langsung menyalami Siska.

Siska, kamu tidak perlu khawatir. Kami semua akan menerimamu apa adanya. Kami senang kalau kamu bisa kembali seperti dulu!” kata Arman, sang ketua kelas.

Siska sangat terharu. Ia sampai menangis karena bahagia.

Oleh Bambang irwanto,

Penulis Cerita Anak,

Tinggal di Jakarta

Saya menemukan cerpen ini dari selembar sobekan koran Kompas, Minggu, 23 Agustus 2009, halaman 25, bekas bungkusan nasi yang saya beli di warung sewaktu sarapan pagi tadi.

Cerpen yang keren dengan metafor sederhana. Hancurkan lingkaranmu bakar kotakmu (atau setidaknya perbesar ukurannya🙂 )

Mugkin juga bisa menonjok hidung “mereka” yang selalu merasa superior dan berbeda dengan klaim “lingkaran bodohnya” itu

Nb: coba sering – seringlah mengamati sisa lembaran koran pembungkus makananmu…banyak hal keren disana! (karena membaca koran secara keseluruhan memang “agak” membosankan…:))

5 responses to “Bebaskan Dirimu dari “Lingkaran” Itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s